Pernahkah antum bekerja di bawah dua atasan yang saling bertentangan?
Atasan A minta laporan diselesaikan hari ini. Atasan B minta antum fokus ke proyek lain. Atasan A marah kalau antum mengikuti B. Atasan B kecewa kalau antum mengikuti A.
Antum terjepit di tengah. Apa pun yang antum lakukan, salah satu pasti gak puas. Stres, bingung, dan gak pernah tenang.
Sekarang bayangkan kalau atasannya bukan dua, tapi sepuluh. Dan semuanya saling bertentangan.
Itulah gambaran yang dipakai Al-Qur'an untuk menjelaskan kondisi hati yang gak mengesakan Allah. Dan jawabannya ada pada nama Al-Wahid.
Makna Al-Wahid
Al-Wahid berasal dari akar و-ح-د (w-h-d), yang bermakna satu, esa, tunggal. Kata tauhid (mengesakan) berasal dari akar yang sama.
Al-Wahid adalah Allah Yang Maha Esa: satu dalam Dzat-Nya, satu dalam sifat-sifat-Nya, satu dalam perbuatan-Nya, dan satu-satunya yang berhak disembah.
Nama ini sering muncul bersama Al-Qahhar, seperti yang sudah kita bahas:
قُلۡ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ قُلِ ٱللَّهُۚ قُلۡ أَفَٱتَّخَذۡتُم مِّن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ لَا يَمۡلِكُونَ لِأَنفُسِهِمۡ نَفۡعٗا وَلَا ضَرّٗاۚ قُلۡ هَلۡ يَسۡتَوِي ٱلۡأَعۡمَىٰ وَٱلۡبَصِيرُ أَمۡ هَلۡ تَسۡتَوِي ٱلظُّلُمَٰتُ وَٱلنُّورُۗ أَمۡ جَعَلُواْ لِلَّهِ شُرَكَآءَ خَلَقُواْ كَخَلۡقِهِۦ فَتَشَٰبَهَ ٱلۡخَلۡقُ عَلَيۡهِمۡۚ قُلِ ٱللَّهُ خَٰلِقُ كُلِّ شَيۡءٖ وَهُوَ ٱلۡوَٰحِدُ ٱلۡقَهَّٰرُ ١٦
...Dan Dialah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.
Perumpamaan Budak dengan Banyak Tuan
Ada satu perumpamaan dalam Al-Qur'an yang sangat tajam:
ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلٗا رَّجُلٗا فِيهِ شُرَكَآءُ مُتَشَٰكِسُونَ وَرَجُلٗا سَلَمٗا لِّرَجُلٍ هَلۡ يَسۡتَوِيَانِ مَثَلًاۚ ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِۚ بَلۡ أَكۡثَرُهُمۡ لَا يَعۡلَمُونَ ٢٩
Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan, dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); adakah kedua budak itu sama halnya? Segala puji bagi Allah, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.
Coba bayangkan kedua budak ini.
Budak pertama dimiliki oleh beberapa tuan yang mutasyakisun, saling berselisih. Tuan A menyuruh ke timur, tuan B menyuruh ke barat. Tuan C marah karena ia gak ada di rumah, tuan D marah karena ia gak di ladang. Budak ini gak pernah bisa memuaskan semua tuannya. Ia selalu salah, selalu dimarahi, selalu gelisah.
Budak kedua dimiliki oleh satu tuan saja. Ia tahu persis apa yang diinginkan tuannya. Ia tahu kepada siapa harus melapor. Ia tahu bagaimana cara memuaskan tuannya. Hidupnya jelas dan tenang.
Lalu Allah bertanya: hal yastawiyani matsala? Apakah keduanya sama?
Jawabannya jelas: gak sama.
Tuan-Tuan di Hati Kita
Perumpamaan ini bukan hanya tentang menyembah berhala. Ia berlaku juga untuk kita hari ini.
Coba periksa: siapa saja "tuan" di hati kita?
Tuan uang. Ia menyuruh kita bekerja tanpa henti, mengorbankan waktu keluarga, bahkan menghalalkan cara yang gak halal.
Tuan pendapat orang. Ia menyuruh kita tampil sempurna, menyenangkan semua orang, dan takut dikritik.
Tuan hawa nafsu. Ia menyuruh kita menuruti keinginan sesaat, meski merugikan diri sendiri.
Tuan karier. Ia menyuruh kita mengejar posisi, meski harus meninggalkan prinsip.
Tuan gengsi. Ia menyuruh kita mempertahankan citra, meski harus berbohong.
Dan tuan-tuan ini saling bertentangan. Tuan uang ingin kita lembur, tuan keluarga ingin kita pulang. Tuan pendapat orang ingin kita ikut arus, tuan hati nurani ingin kita berbeda. Tuan hawa nafsu ingin kesenangan sekarang, tuan masa depan ingin kita menahan diri.
Hasilnya? Kita seperti budak pertama. Gelisah, bingung, dan gak pernah tenang.
Tauhid sebagai Kedamaian
Sekarang kita bisa memahami kenapa tauhid, mengesakan Allah, bukan hanya konsep teologis. Ia adalah sumber ketenangan jiwa.
Kalau hanya ada satu Tuan di hati kita, yaitu Allah, maka semua keputusan menjadi lebih jelas. Kita gak perlu bingung mau menyenangkan siapa. Cukup satu pertanyaan: apa yang diridhai Allah?
Uang tetap penting, tapi ia bukan tuan. Ia pelayan yang dipakai untuk menjalankan perintah Tuan.
Pendapat orang tetap dipertimbangkan, tapi ia bukan tuan. Ridha Allah lebih utama.
Karier tetap dikejar, tapi ia bukan tuan. Ia jalan untuk beribadah.
Semua aspek hidup tetap ada, tapi diatur di bawah satu komando. Seperti orkestra yang dipimpin satu konduktor. Banyak alat musik, tapi semuanya harmonis karena mengikuti satu arahan.
Logika Satu Tuhan
Al-Qur'an juga memberi argumen logis tentang keesaan Allah:
لَوۡ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَاۚ فَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ عَمَّا يَصِفُونَ ٢٢
Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa...
Logikanya sama dengan budak dengan banyak tuan. Kalau ada lebih dari satu penguasa alam semesta, dan mereka punya kehendak yang berbeda, maka alam semesta akan kacau. Satu ingin matahari terbit, yang lain ingin gak terbit. Satu ingin hujan, yang lain ingin kemarau.
Tapi alam semesta berjalan dengan keteraturan yang luar biasa. Hukum-hukum fisika konsisten di seluruh penjuru alam. Itu adalah bukti bahwa hanya ada satu Pengatur.
Al-Wahid dalam Mendidik Anak
Anak-anak juga bisa merasakan "banyak tuan." Tuntutan orang tua, tuntutan guru, tekanan teman, pengaruh media sosial. Semuanya menarik ke arah berbeda.
Tugas orang tua adalah membantu anak memiliki satu pegangan utama: Allah. Ketika anak bingung harus mengikuti siapa, ajarkan satu pertanyaan: "Apa yang Allah sukai?"
Dan orang tua juga perlu memeriksa diri: apakah kita sendiri menjadi salah satu "tuan" yang bertentangan dengan Allah? Apakah kita menuntut anak untuk menyenangkan kita, meski harus mengorbankan ketaatan kepada Allah?
Cara Praktis Menghidupkan Al-Wahid
Pertama, tuliskan daftar "tuan" di hati antum. Apa saja yang paling menguasai keputusan antum?
Kedua, dalam setiap keputusan penting, tanyakan satu pertanyaan: apa yang diridhai Allah? Biarkan itu menjadi komando utama.
Ketiga, baca Surat Al-Ikhlas dengan penuh penghayatan. Rasulullah menyebutnya setara dengan sepertiga Al-Qur'an, sebagaimana diriwayatkan Bukhari.
Keempat, saat merasa gelisah dan terjepit oleh banyak tuntutan, ingat perumpamaan dua budak di Az-Zumar ayat 29.
Penutup
Hati yang memiliki banyak tuan gak akan pernah tenang. Ia akan terus terjepit, terus salah, terus gelisah.
Tapi hati yang hanya memiliki satu Tuan akan menemukan kejelasan dan kedamaian.
Maka berapa banyak "tuan" yang saat ini menguasai hati antum?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-66 dari 99.