Pernahkah antum mencari sesuatu yang hilang?
Kunci motor, dompet, dokumen penting. Antum mencari ke setiap sudut rumah, membongkar laci, memeriksa saku. Rasa panik perlahan naik.
Atau kehilangan yang lebih dalam: kehilangan pekerjaan, kehilangan kesempatan, kehilangan arah hidup, kehilangan semangat.
Manusia adalah makhluk yang sering kehilangan. Dan setiap kehilangan meninggalkan rasa kurang.
Tapi ada satu Dzat yang gak pernah kehilangan apa pun, dan gak pernah kekurangan apa pun. Namanya Al-Wajid.
Makna Al-Wajid
Al-Wajid berasal dari akar و-ج-د (w-j-d), yang punya beberapa makna: menemukan, mendapatkan, memiliki, dan ada. Kata wujud (keberadaan) berasal dari akar yang sama.
Para ulama menjelaskan Al-Wajid sebagai Allah yang gak pernah kehilangan apa pun, yang menemukan apa pun yang Dia kehendaki kapan pun Dia kehendaki, dan yang gak pernah kekurangan sedikit pun.
Sebagian ulama juga menjelaskan maknanya sebagai Yang Maha Kaya, karena orang yang gak pernah kehilangan dan selalu menemukan apa yang ia butuhkan adalah orang yang kaya sejati.
Perlu dicatat dengan jujur: nama Al-Wajid gak disebut sebagai isim dalam Al-Qur'an. Ia termasuk dalam daftar masyhur riwayat Tirmidzi, dan para ulama berbeda pendapat tentang status sebagian nama dalam daftar itu. Tapi maknanya, bahwa Allah gak pernah kehilangan dan gak pernah kekurangan, disepakati.
Isyarat dari Surat Adh-Dhuha
Meskipun nama Al-Wajid gak muncul langsung, akar kata و-ج-د (w-j-d) muncul dalam salah satu surat yang paling menyentuh dalam Al-Qur'an. Surat Adh-Dhuha turun ketika wahyu sempat terhenti beberapa waktu, dan Rasulullah merasa sangat sedih. Sebagian orang bahkan mengejek bahwa Tuhannya telah meninggalkannya.
Lalu Allah menurunkan:
أَلَمۡ يَجِدۡكَ يَتِيمٗا فَـَٔاوَىٰ ٦ وَوَجَدَكَ ضَآلّٗا فَهَدَىٰ ٧ وَوَجَدَكَ عَآئِلٗا فَأَغۡنَىٰ ٨
Bukankah Dia mendapatimu (yajidka) sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu (wajadaka) sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu (wajadaka) sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.
Tiga kali kata wajada muncul. Tiga kali Allah "menemukan" Nabi Muhammad dalam keadaan kekurangan, lalu memenuhinya.
Yatim, lalu dilindungi. Bingung mencari kebenaran, lalu diberi petunjuk. Kekurangan harta, lalu dicukupkan.
Perhatikan polanya. Allah gak hanya "tahu" kondisi Nabi. Allah menemukan beliau, seperti seseorang yang menemukan sesuatu yang berharga, lalu merawatnya.
Allah Menemukan Kita
Sekarang, bawa pola ini ke hidup kita.
Mungkin antum sedang merasa "yatim," kehilangan sosok yang melindungi. Mungkin antum sedang "bingung," gak tahu arah hidup. Mungkin antum sedang "kekurangan," secara materi atau secara batin.
Al-Wajid mengingatkan: Allah sudah menemukanmu dalam keadaan itu. Dia tahu persis di mana kamu berada. Dan sebagaimana Dia melindungi, memberi petunjuk, dan mencukupkan Nabi-Nya, Dia juga mampu melakukan hal yang sama untukmu.
Kita sering merasa hilang. Tapi di hadapan Al-Wajid, gak ada yang benar-benar hilang. Dia selalu tahu di mana kita, dan Dia selalu bisa menemukan kita.
Allah Gak Pernah Kehilangan
Ada sisi lain dari Al-Wajid yang juga menenangkan.
Allah gak pernah kehilangan apa pun. Artinya, apa pun yang hilang dari kita, gak hilang dari Allah.
Orang yang kita cintai yang sudah meninggal? Mereka gak hilang dari Allah. Mereka ada dalam pengetahuan dan kekuasaan-Nya.
Amal kebaikan yang kita lakukan dan sudah kita lupakan? Gak hilang dari Allah.
Doa yang kita panjatkan bertahun-tahun lalu? Gak hilang dari Allah.
Kehilangan hanya berlaku bagi makhluk. Bagi Al-Wajid, semua tetap "ditemukan."
Setelah Kehilangan, Datang Penemuan
Surat Adh-Dhuha juga mengandung pola yang sangat menghibur: kehilangan diikuti penemuan.
Yatim, lalu dilindungi. Bingung, lalu diberi petunjuk. Kekurangan, lalu dicukupkan.
Dan surat berikutnya, Al-Insyirah, menegaskan pola yang sama: "Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 5–6)
فَإِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرًا ٥ إِنَّ مَعَ ٱلۡعُسۡرِ يُسۡرٗا ٦
Pola ini bukan jaminan bahwa semua yang hilang akan kembali persis sama. Tapi ia adalah jaminan bahwa Al-Wajid gak akan membiarkan hamba-Nya dalam kekosongan. Selalu ada yang Dia "temukan" untuk kita.
Apa Balasannya?
Menariknya, setelah tiga kali "menemukan" Nabi dalam kekurangan, Allah memberi tiga perintah di akhir Surat Adh-Dhuha:
فَأَمَّا ٱلۡيَتِيمَ فَلَا تَقۡهَرۡ ٩ وَأَمَّا ٱلسَّآئِلَ فَلَا تَنۡهَرۡ ١٠ وَأَمَّا بِنِعۡمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثۡ ١١
Adapun terhadap anak yatim, maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang meminta-minta, maka janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya.
Logikanya sangat indah. Karena kamu dulu yatim dan Allah melindungimu, maka lindungilah anak yatim. Karena kamu dulu kekurangan dan Allah mencukupimu, maka jangan hardik orang yang meminta. Karena kamu sudah diberi nikmat, maka syukuri dan ceritakan.
Orang yang pernah "ditemukan" oleh Al-Wajid seharusnya menjadi orang yang "menemukan" orang lain.
Al-Wajid dalam Mendidik Anak
Anak-anak sering mengalami rasa kehilangan: mainan yang rusak, teman yang pindah, hewan peliharaan yang mati.
Gunakan momen-momen itu untuk mengenalkan Al-Wajid. "Nak, Allah gak pernah kehilangan apa pun. Dan Allah selalu tahu di mana kita, bahkan saat kita merasa sedih dan sendirian."
Ceritakan juga kisah turunnya Surat Adh-Dhuha. Biarkan mereka tahu bahwa Nabi pun pernah merasa sedih, dan Allah menghiburnya.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Wajid
Pertama, saat merasa kehilangan atau kekurangan, baca Surat Adh-Dhuha perlahan. Rasakan bahwa Allah juga "menemukan" antum.
Kedua, ingat tiga momen dalam hidup antum ketika antum "ditemukan" Allah: dilindungi, diberi petunjuk, dicukupkan.
Ketiga, jadilah "penemu" bagi orang lain: santuni anak yatim, jangan menghardik yang meminta.
Keempat, ceritakan nikmat Allah. Bukan untuk pamer, tapi untuk bersyukur.
Penutup
Kita sering merasa hilang, kehilangan, dan kekurangan.
Tapi ada Dzat yang gak pernah kehilangan apa pun, dan yang selalu tahu di mana kita berada. Dia menemukan Nabi-Nya dalam keadaan yatim, bingung, dan kekurangan, lalu memenuhi semuanya.
Maka dalam keadaan apa Allah sedang "menemukan" antum hari ini?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-64 dari 99.