Ada dua kesalahan yang sering terjadi ketika orang membicarakan tawakal.
Kesalahan pertama: menganggap tawakal berarti gak perlu berusaha. "Kan sudah tawakal, rezeki sudah diatur." Lalu duduk di rumah menunggu keajaiban.
Kesalahan kedua: menganggap usaha adalah segalanya. Bekerja keras, merencanakan dengan detail, mengontrol semua variabel, dan merasa bahwa hasilnya sepenuhnya ditentukan oleh diri sendiri. Lalu stres berat ketika hasilnya gak sesuai rencana.
Kedua kesalahan ini lahir dari salah memahami satu nama Allah: Al-Wakil.
Makna Al-Wakil
Al-Wakil berasal dari akar و-ك-ل (w-k-l), yang bermakna menyerahkan, mewakilkan, mempercayakan urusan. Dalam bahasa sehari-hari, wakil adalah orang yang diserahi tanggung jawab untuk mengurus sesuatu atas nama orang lain.
Al-Wakil adalah Allah yang diserahi urusan oleh hamba-hamba-Nya, yang mengurus dan mencukupi segala urusan mereka dengan sebaik-baiknya.
Dan kita sudah bertemu nama ini dalam kalimat hasbunallah wa ni'mal wakil saat membahas Al-Hasib. Ni'mal wakil, sebaik-baik tempat mewakilkan urusan.
رَّبُّ ٱلۡمَشۡرِقِ وَٱلۡمَغۡرِبِ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَٱتَّخِذۡهُ وَكِيلٗا ٩
(Dia-lah) Tuhan masyrik dan maghrib, tiada Tuhan melainkan Dia, maka ambillah Dia sebagai Pelindung (wakil).
Logika Perwakilan
Coba pikirkan cara kerja perwakilan dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika antum mewakilkan urusan hukum kepada pengacara, apakah antum lalu diam saja? Gak. Antum tetap harus memberikan dokumen, menjelaskan kronologi, datang ke sidang saat diminta. Tapi ada bagian yang antum serahkan sepenuhnya kepada pengacara: strategi hukum, argumen di pengadilan, negosiasi dengan pihak lain.
Antum melakukan bagian antum, lalu menyerahkan bagian yang di luar kemampuan antum kepada wakil yang lebih ahli.
Dan ketika antum sudah percaya pada pengacara itu, antum gak perlu begadang setiap malam memikirkan strategi hukum. Antum bisa tidur lebih tenang, karena ada yang mengurus.
Tawakal kepada Al-Wakil bekerja dengan logika yang sama, tapi dengan Wakil yang jauh lebih sempurna.
Ikat Untamu, Lalu Bertawakal
Ada hadits yang sangat terkenal dalam hal ini. Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah: "Wahai Rasulullah, apakah aku ikat untaku lalu bertawakal, atau aku lepaskan lalu bertawakal?"
Rasulullah menjawab: "Ikatlah, lalu bertawakallah." (HR. Tirmidzi, dinilai hasan)
Jawaban ini sangat jelas. Mengikat unta adalah ikhtiar, bagian yang ada dalam kendali manusia. Bertawakal adalah menyerahkan hasil kepada Allah, bagian yang di luar kendali manusia.
Unta yang sudah diikat pun bisa lepas, bisa dicuri, bisa sakit. Maka setelah mengikat, kita tetap butuh bertawakal. Tapi tawakal tanpa mengikat unta bukanlah tawakal, itu kelalaian.
Kenapa Kita Sulit Bertawakal?
Kalau tawakal semudah itu, kenapa banyak orang sulit melakukannya?
Salah satu penyebabnya adalah ilusi kontrol. Kita merasa bahwa kalau kita merencanakan dengan cukup detail, bekerja dengan cukup keras, dan memikirkan semua kemungkinan, maka hasilnya pasti sesuai keinginan.
Budaya modern memperkuat ilusi ini. Buku-buku produktivitas mengajarkan bahwa sukses sepenuhnya ada di tangan kita. "Kamu adalah arsitek hidupmu sendiri."
Ada benarnya: usaha itu penting. Tapi kenyataannya, sebagian besar faktor yang menentukan hasil ada di luar kendali kita. Ekonomi global, kesehatan, keputusan orang lain, cuaca, bahkan kebetulan-kebetulan kecil.
Orang yang gak bertawakal akan terus stres, karena mencoba mengontrol hal-hal yang memang gak bisa dikontrol.
Orang yang bertawakal akan melakukan yang terbaik dalam lingkup kendalinya, lalu melepaskan sisanya kepada Al-Wakil. Dan itu membebaskan.
Tawakal dan Kesehatan Mental
Ini bukan klaim medis, tapi pengamatan yang bisa kita rasakan sendiri: banyak kecemasan lahir dari mencoba memikul beban yang bukan milik kita.
Kita cemas tentang masa depan anak, padahal masa depan itu di tangan Allah. Kita cemas tentang pendapat orang, padahal hati mereka di tangan Allah. Kita cemas tentang hasil ujian, padahal yang bisa kita lakukan hanya belajar.
Al-Wakil mengundang kita untuk meletakkan beban yang bukan milik kita. Kita pikul bagian kita: usaha, doa, dan ketaatan. Sisanya, serahkan kepada Wakil yang gak pernah lelah dan gak pernah gagal.
Allah berfirman: "...Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya..." (QS. Ath-Thalaq: 3)
وَيَرۡزُقۡهُ مِنۡ حَيۡثُ لَا يَحۡتَسِبُۚ وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ بَٰلِغُ أَمۡرِهِۦۚ قَدۡ جَعَلَ ٱللَّهُ لِكُلِّ شَيۡءٖ قَدۡرٗا ٣
Tanda Tawakal yang Benar
Bagaimana kita tahu apakah kita sudah bertawakal dengan benar?
Kita tetap berusaha maksimal. Tawakal yang benar gak melahirkan kemalasan.
Kita tenang saat hasilnya belum terlihat. Kalau kita masih sangat cemas, mungkin kita belum benar-benar menyerahkan.
Kita menerima hasil apa pun dengan ridha. Kalau hasilnya gak sesuai harapan, kita gak menyalahkan Allah, karena kita tahu Al-Wakil memilih yang terbaik.
Kita gak bergantung pada sebab. Kita menggunakan sebab, tapi hati kita bergantung pada Allah. Dokter adalah sebab, obat adalah sebab, tapi yang menyembuhkan adalah Allah.
Al-Wakil dalam Mendidik Anak
Orang tua modern sering terjebak dalam kecemasan berlebihan tentang anak. Mereka mencoba mengontrol setiap aspek kehidupan anak: sekolah, teman, hobi, bahkan pilihan masa depan.
Kontrol yang berlebihan ini sering lahir dari kurangnya tawakal.
Mendidik dengan kesadaran Al-Wakil berarti: lakukan yang terbaik dalam mendidik, berdoa dengan sungguh-sungguh, lalu serahkan hasilnya kepada Allah. Hidayah dan masa depan anak bukan di tangan kita.
Ingat, Nabi Nuh gak bisa menyelamatkan anaknya. Nabi Ibrahim gak bisa memberi hidayah kepada ayahnya. Kita hanya diminta mengikat unta, bukan menjamin unta gak pernah lepas.
Cara Praktis Menghidupkan Al-Wakil
Pertama, untuk setiap kekhawatiran, bagi menjadi dua kolom: yang bisa aku kontrol, dan yang gak bisa aku kontrol. Kerjakan kolom pertama, serahkan kolom kedua.
Kedua, ucapkan doa keluar rumah yang diajarkan dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi: Bismillahi tawakkaltu 'alallah, wa la haula wa la quwwata illa billah.
Ketiga, setelah berusaha maksimal, latih diri untuk melepaskan. Tidur dengan tenang.
Keempat, terima hasil apa pun sebagai pilihan Al-Wakil yang terbaik.
Penutup
Tawakal bukan pasrah tanpa usaha. Dan usaha bukan jaminan hasil.
Tawakal adalah mengikat unta dengan sungguh-sungguh, lalu tidur dengan tenang karena ada Wakil yang menjaga.
Maka beban apa yang selama ini antum pikul sendirian, padahal sebenarnya bukan bagian antum untuk memikulnya?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-52 dari 99.