Coba bayangkan skenario ini.
Dua orang duduk di satu meja. Keduanya berdebat keras. Topiknya? Sesuatu yang sudah ada di depan mata mereka berdua.
Aneh? Justru itulah yang Allah ceritakan di awal Surat An-Naba'.
Pertanyaan yang Bukan Sekadar Pertanyaan
Allah membuka surat ini dengan tiga ayat yang terasa seperti sindiran halus:
عَمَّ يَتَسَاءَلُونَ — عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ — الَّذِي هُمْ فِيهِ مُخْتَلِفُونَ
"Tentang apakah mereka saling bertanya? Tentang berita besar. Yang mereka perselisihkan."
Perhatikan strukturnya.
Allah gak langsung menjawab. Allah justru balik bertanya: 'ammā yatasā'alūn — tentang apakah mereka ribut?
Ini bukan pertanyaan biasa. Dalam ilmu balaghah, pola pertanyaan seperti ini disebut pertanyaan yang mengandung ta'zhīm — pengagungan sekaligus sindiran. Artinya kira-kira: "Hei, kalian ribut soal sesuatu yang seharusnya gak perlu diributkan."
Lalu dijawab sendiri oleh Allah: 'anin naba'il 'azhīm — tentang berita yang besar.
Apa berita besar itu? Para mufassir umumnya menunjuk pada dua kemungkinan: hari kebangkitan (yaumul ba'ts) atau Al-Qur'an itu sendiri. Keduanya saling berkaitan. Al-Qur'an mengabarkan kebangkitan. Kebangkitan adalah isi kabar terbesar Al-Qur'an.
Mereka Berselisih Soal Apa?
Ayat ketiga menyebut: alladhī hum fīhi mukhtalifūn — yang mereka perselisihkan.
Kata mukhtalifūn berasal dari ikhtilāf — berbeda, berseberangan. Tapi menariknya, kata ini bukan sekadar "berbeda pendapat". Akarnya khilāf mengandung makna sesuatu yang bergerak ke arah berlawanan.
Jadi bukan cuma beda pendapat biasa. Ini perselisihan yang aktif. Yang produktif dalam hal yang salah.
Mereka — kaum kafir Makkah kala itu — memang ribut soal kebangkitan. Ada yang bilang mustahil. Ada yang ragu. Ada yang menertawakan. Ada yang pura-pura gak tahu.
Tapi Ana mau ajak Antum berpikir lebih dalam.
Apakah fenomena ini hanya milik orang Makkah dulu?
Berita Besar yang Masih Diributkan
Kita hidup di zaman informasi. Setiap hari ada ratusan "berita besar" yang lalu-lalang di timeline kita.
Tapi perhatikan: mana yang paling banyak dibahas? Mana yang paling sedikit dikaji?
Ironisnya, berita tentang akhirat — yang konsekuensinya paling besar, yang dampaknya paling abadi — justru paling sedikit mengubah perilaku kita.
Kita berdebat soal politik sampai tengah malam. Kita diskusi soal investasi saham berjam-jam. Kita scrolling konten hiburan tanpa batas waktu.
Tapi soal naba' 'azhīm — berita tentang hari kita akan dibangkitkan dan dimintai pertanggungjawaban — kita jarang benar-benar duduk, diam, dan memikirkannya sampai masuk ke tulang.
Kita tahu. Tapi pengetahuan itu gak mengubah apa-apa.
Nah, mungkin inilah yang Allah sindir di ayat ketiga itu.
Bukan hanya orang Makkah yang berselisih soal berita besar. Kita juga berselisih. Hanya saja perselisihan kita beda bentuknya.
Dua Ayat Penutup yang Sering Dilupakan
Banyak orang membaca An-Naba' 1–3 tapi lupa melanjutkan ke ayat 4–5:
كَلَّا سَيَعْلَمُونَ — ثُمَّ كَلَّا سَيَعْلَمُونَ
"Sekali-kali tidak! Mereka akan segera mengetahui. Kemudian sekali-kali tidak! Mereka akan segera mengetahui."
Dua kali. Diulang.
Kata kallā dalam bahasa Arab adalah penolakan tegas dan keras. Bukan sekadar "tidak". Lebih dekat ke: "Jangan begitu. Ini keliru total."
Lalu saya'lamūn — mereka akan tahu. Kata saya- adalah prefix masa depan yang pasti. Bukan "mungkin tahu". Bukan "kalau mau tahu". Tapi pasti tahu.
Pertanyaannya: tahu kapan?
Allah gak menyebut waktunya secara eksplisit di sini. Justru itu yang bikin bulu kuduk berdiri. Karena kemungkinannya dua: tahu sebelum mati — lewat tadabbur dan taubat — atau tahu setelah mati — ketika semuanya sudah terlambat.
Pengulangan Sebagai Metode Pendidikan
Mengapa ayat 4 dan 5 hampir identik? Mengapa Allah mengulang kalimat yang sama?
Ini bukan pemborosan kata. Al-Qur'an terlalu cermat untuk itu.
Dalam tradisi retorika Arab — dan juga dalam ilmu balaghah — pengulangan (tikrār) digunakan untuk dua tujuan: penguatan makna dan perluasan sasaran.
Kemungkinan pertama: ayat 4 ditujukan kepada orang yang ragu-ragu, ayat 5 ditujukan kepada yang terang-terangan menolak.
Kemungkinan kedua: ini adalah gaya peringatan bertingkat. Seperti guru yang pertama kali mengingatkan dengan lembut, lalu mengulangi dengan lebih serius.
Dua-duanya mungkin benar. Dan dua-duanya relevan.
Karena dalam hidup, ada orang yang ragu soal akhirat. Ada yang menolak. Ada yang pura-pura setuju tapi hidupnya gak mencerminkan keyakinan itu.
Semua dapat bagian dari kallā saya'lamūn.
Hubungan Surat Ini dengan Konteksnya
An-Naba' adalah surat pertama dalam Juz 30. Pembuka Juz 'Amma.
Menarik sekali bahwa Juz 'Amma — yang paling banyak dihafal, paling sering didengar sejak kecil — dibuka dengan pertanyaan soal naba' 'azhīm.
Seolah Allah ingin bilang: sebelum kamu belajar ayat-ayat pendek ini, tanya dulu ke dirimu — kamu sudah sungguh-sungguh percaya pada berita besar itu?
Karena kalau belum percaya sungguh-sungguh, hafalan hanyalah bunyi. Bukan cahaya.
Dan surat-surat berikutnya dalam Juz 'Amma — An-Nazi'at, 'Abasa, At-Takwir, Al-Infitar — semuanya berputar di tema yang sama: akhirat, hari kebangkitan, pertanggungjawaban.
Ini bukan kebetulan. Ini kurikulum.
Allah sedang membangun satu worldview secara sistematis. Dimulai dari pertanyaan: apakah kamu sudah benar-benar percaya?
Refleksi
Coba tanya ke diri sendiri sekarang.
Jika benar ada hari ketika setiap langkah kita dihitung — setiap detik waktu yang kita buang, setiap niat yang kita sembunyikan, setiap amanah yang kita abaikan — apakah cara kita hidup hari ini sudah mencerminkan keyakinan itu?
Atau jangan-jangan, kita juga termasuk yang mukhtalifūn? Bukan karena kita menolak akhirat. Tapi karena cara hidup kita berseberangan dengan apa yang kita ucapkan?
Kallā. Saya'lamūn.
Semua akan tahu. Hanya soal kapan.
Semoga kita termasuk yang tahu sebelum terlambat.