Ada tren yang mulai ana perhatikan dalam dunia pendidikan — termasuk di lingkungan pesantren.
Ketika santri generasi sekarang menunjukkan karakter yang berbeda dari generasi sebelumnya — lebih sensitif, gampang menyerah, susah menerima teguran keras — sebagian pendidik merespons dengan cara yang kelihatannya bijak tapi sebenarnya perlu dipertanyakan.
Mereka menurunkan standar.
Alasannya terdengar masuk akal: "Gen Z itu beda, Ustadz. Mereka gak bisa didekati dengan cara lama. Mereka butuh pendekatan yang lebih lembut."
Ana gak sepenuhnya menolak kalimat itu. Tapi ada sesuatu yang mengganjal.
Pertanyaan yang Jarang Diajukan
Sebelum kita sepakat soal "pendekatan baru", ada satu pertanyaan yang perlu dijawab dulu.
Apakah yang kita ubah itu cara, atau standar?
Ini bukan pertanyaan sepele. Ini pertanyaan yang menentukan arah pendidikan satu generasi.
Kalau yang diubah adalah cara — metode komunikasi, pendekatan emosional, media yang digunakan — itu namanya adaptasi. Itu baik. Bahkan perlu.
Tapi kalau yang diubah adalah standar — ekspektasi karakter, ambang toleransi terhadap kesulitan, ukuran kedewasaan — maka kita sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.
Kita sedang mendidik generasi untuk menjadi lebih nyaman, bukan lebih kuat.
Tentang Label "Gen Z"
Ana perlu jujur soal satu hal.
Kategori generasi — Baby Boomer, Gen X, Millennial, Gen Z, Alpha — adalah konstruksi yang lahir dari ilmu pemasaran dan sosiologi Barat. Bukan dari wahyu. Bukan dari fitrah.
Itu bukan berarti kategori itu gak berguna sama sekali. Tapi ada bahaya tersembunyi di sana.
Ketika kita terlalu percaya pada label generasi, kita mulai memperlakukan karakter sebagai sesuatu yang given — sudah ditentukan oleh tahun lahir seseorang. Seolah-olah seorang anak yang lahir tahun 2005 secara kodrati gak bisa menerima kritik keras, gak bisa diam, dan gak bisa fokus lebih dari tiga menit.
Padahal...
Itu bukan karakter fitrah. Itu karakter hasil pembentukan.
Ada bedanya.
Fitrah adalah potensi yang Allah tanamkan. Karakter adalah hasil dari apa yang membentuk seseorang — lingkungan, kebiasaan, tontonan, pola asuh, nilai-nilai yang ditanamkan atau yang dibiarkan absen.
Kalau Gen Z banyak yang sensitif dan gampang menyerah, itu bukan karena Allah menciptakan mereka demikian. Itu karena lingkungan — termasuk kita, para pendidik dan orang tua — membentuk mereka demikian.
Dan solusinya bukan menurunkan standar pendidikan supaya match dengan karakter yang sudah terbentuk itu.
Solusinya adalah membentuk ulang.
Kalau Standar Diturunkan, Apa yang Terjadi?
Mari kita berpikir dengan konsekuensi logis.
Premis 1: Karakter dibentuk oleh tantangan yang dihadapi dan cara seseorang meresponsnya.
Premis 2: Kalau kita menurunkan standar, kita mengurangi tantangan yang harus dihadapi.
Premis 3: Generasi yang kurang menghadapi tantangan akan memiliki otot karakter yang lebih lemah.
Kesimpulan: Menurunkan standar pendidikan bukan solusi untuk Gen Z yang lemah karakter — justru akan melahirkan generasi yang lebih lemah lagi.
Ini bukan teori. Ini logika sebab-akibat yang sederhana.
Analogi: Kalau seorang pelatih melihat atletnya gampang capek, lalu responsnya adalah mengurangi porsi latihan — kira-kira atletnya akan menjadi lebih kuat atau lebih lemah?
Jawaban itu sudah jelas. Tapi di dunia pendidikan, kita sering terjebak pada ilusi bahwa "menyesuaikan" selalu bermakna baik.
Pesantren dan Tugasnya yang Sesungguhnya
Pesantren bukan lembaga yang lahir untuk mengikuti zaman.
Pesantren lahir untuk mendidik manusia — dan manusia yang terdidik itulah yang kemudian membentuk zaman.
Ini bukan romantisme sejarah. Ini adalah persoalan worldview pendidikan.
Kalau pesantren menjadikan "sesuai zaman" sebagai standar utama, maka pesantren akan selalu tertinggal — karena zaman berubah lebih cepat dari kurikulum manapun.
Tapi kalau pesantren menjadikan pembentukan karakter yang berpijak pada Al-Qur'an dan Sunnah sebagai standar utama, maka pesantren justru akan selalu relevan — karena fitrah manusia gak pernah berubah.
Allah berfirman:
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah." (QS. Ar-Rum: 30)
Ayat ini bicara banyak hal. Tapi salah satu implikasinya dalam konteks pendidikan adalah ini: fitrah manusia adalah konstanta, bukan variabel.
Generasi boleh berganti. Gadget boleh berubah. Platform boleh datang dan pergi. Tapi kebutuhan manusia akan kejujuran, ketabahan, tanggung jawab, dan ketundukan kepada Allah — itu gak pernah berubah.
Artinya, standar karakter yang ingin kita bentuk juga gak boleh berubah hanya karena generasinya berganti.
Adaptasi yang Benar
Ana gak sedang mengajak kita untuk rigid dan menolak semua perubahan.
Adaptasi itu perlu. Bahkan wajib. Tapi ada hirarki yang harus dijaga.
Yang boleh diadaptasi:
Cara berkomunikasi dengan santri
Media dan pendekatan pengajaran
Ritme dan variasi metode
Cara membangun kedekatan emosional
Yang gak boleh diadaptasi:
Standar adab kepada guru dan orangtua
Toleransi terhadap kejujuran dan amanah
Ekspektasi terhadap kesungguhan dalam belajar
Nilai-nilai yang menjadi pondasi karakter
Sederhananya: ubah jembatannya, jangan ubah tujuannya.
Kalau ada santri yang gak bisa menerima teguran langsung, maka tugasnya bukan menghapus teguran dari sistem pendidikan. Tugasnya adalah membangun kapasitas santri untuk menerima teguran dengan jiwa yang lapang — karena itu adalah bagian dari pendidikan itu sendiri.
Tahan kritik bukan kelemahan personal yang harus dimaklumi. Itu adalah skill yang harus dilatih.
Yang Lebih Mengkhawatirkan
Ana lebih khawatir bukan pada Gen Z-nya.
Ana khawatir pada pendidiknya.
Ketika seorang pendidik mulai menjadikan kenyamanan murid sebagai tolok ukur keberhasilan mengajar, ada sesuatu yang bergeser dalam cara pandangnya tentang pendidikan.
Pendidikan bukan tentang membuat murid nyaman. Pendidikan adalah tentang membuat murid bertumbuh. Dan pertumbuhan hampir selalu tidak nyaman.
Tanya diri kita sendiri: siapa guru atau kyai yang paling banyak membentuk kita? Hampir pasti jawabannya adalah orang yang paling menuntut — bukan yang paling memanjakan.
Bukan karena menuntut itu selalu benar. Tapi karena tuntutan yang lahir dari kasih sayang dan visi yang jelas adalah salah satu bentuk penghormatan tertinggi kepada potensi seorang murid.
Seolah sang guru berkata: "Aku tahu kamu bisa lebih dari ini."
Refleksi
Jadi, ketika antum — sebagai pendidik, orang tua, atau siapa pun yang bertanggung jawab atas tumbuhnya generasi ini — merasa tergoda untuk menurunkan standar atas nama "memahami Gen Z"...
Coba tanya dulu:
Apakah ini bentuk kasih sayang? Atau ini bentuk keputusasaan yang kita bungkus dengan kata-kata yang terdengar bijak?
Apakah kita sedang mendidik mereka? Atau kita sedang menghindari konflik dengan mereka?
Pesantren — dan pendidikan Islam pada umumnya — bukan hadir untuk mengikuti zaman. Ia hadir untuk melahirkan manusia yang sanggup menanggung beban zamannya.
Dan manusia seperti itu gak lahir dari pendidikan yang terus menerus menurunkan standar.
Mereka lahir dari proses yang kadang berat, kadang menyakitkan — tapi dijalani dalam bimbingan yang penuh kasih sayang dan arah yang jelas.
Itulah tarbiyah. Dan itulah yang gak boleh kita kompromikan.