Setiap kali selesai shalat, Rasulullah mengucapkan satu doa pendek. Diriwayatkan Muslim dari Tsauban:
Allahumma antas salam wa minkas salam, tabarakta ya dzal jalali wal ikram. Ya Allah, Engkaulah As-Salam, dan dari-Mu keselamatan. Maha Berkah Engkau, wahai Pemilik keagungan dan kemuliaan.
Kita mungkin sudah menghafal doa ini. Mungkin juga sudah membacanya ribuan kali.
Tapi pernahkah kita berhenti sejenak untuk merenungkan kalimat penutupnya: Ya Dzal Jalali wal Ikram?
Makna Dzul Jalali wal Ikram
Nama ini terdiri dari tiga bagian.
Dzu berarti pemilik, yang mempunyai.
Al-Jalal berarti keagungan, kebesaran. Kita sudah membahas Al-Jalil, dari akar yang sama.
Al-Ikram berarti kemuliaan, dan memuliakan. Dari akar yang sama dengan Al-Karim.
Jadi Dzul Jalali wal Ikram adalah Allah, Pemilik keagungan dan kemuliaan.
Tapi ada kedalaman yang menarik di sini. Para ulama menjelaskan bahwa kata ikram mengandung dua makna sekaligus: Allah mulia pada diri-Nya, dan Allah memuliakan hamba-hamba-Nya.
Jadi nama ini memadukan dua hal: keagungan yang membuat kita tunduk, dan kemuliaan yang membuat kita dimuliakan.
Dalam Surat Ar-Rahman
Nama ini disebut dua kali dalam Surat Ar-Rahman, di tempat-tempat yang sangat bermakna.
Yang pertama, setelah menyebut kefanaan segala sesuatu:
كُلُّ مَنۡ عَلَيۡهَا فَانٖ ٢٦ وَيَبۡقَىٰ وَجۡهُ رَبِّكَ ذُو ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ ٢٧
Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan (dzul jalali wal ikram).
Yang kedua, di ayat terakhir surat:
تَبَٰرَكَ ٱسۡمُ رَبِّكَ ذِي ٱلۡجَلَٰلِ وَٱلۡإِكۡرَامِ ٧٨
Maha Agung nama Tuhanmu Yang Mempunyai Kebesaran dan Karunia (dzil jalali wal ikram).
Perhatikan. Surat Ar-Rahman, yang berulang kali bertanya fabi ayyi ala'i rabbikuma tukadzdziban, maka nikmat Tuhan kalian yang manakah yang kalian dustakan, ditutup dengan nama Dzul Jalali wal Ikram.
Seolah setelah menyebutkan begitu banyak nikmat, dari penciptaan manusia, matahari dan bulan, lautan dan mutiara, sampai surga dan bidadari, kesimpulannya adalah: semua itu berasal dari Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan.
Dua Sisi yang Seimbang
Kita sudah membahas saat Al-Jalil tentang keseimbangan antara rasa takut dan rasa cinta, antara sifat jalal dan sifat jamal.
Dzul Jalali wal Ikram adalah perwujudan paling ringkas dari keseimbangan itu.
Jalal membuat kita tunduk. Kita sadar betapa kecilnya kita di hadapan keagungan-Nya. Kita malu bermaksiat. Kita segan dalam beribadah.
Ikram membuat kita dekat. Kita sadar betapa Dia memuliakan kita. Kita rindu kepada-Nya. Kita merasa dihargai.
Tanpa jalal, kita bisa meremehkan Allah. Tanpa ikram, kita bisa takut berlebihan dan menjauh. Dengan keduanya, hubungan kita dengan Allah menjadi utuh.
Anjuran untuk Melekat
Ada satu hadits yang secara khusus menganjurkan kita untuk memperbanyak nama ini. Diriwayatkan Tirmidzi, Rasulullah bersabda:
Alizzhu bi ya dzal jalali wal ikram.
Kata alizzhu berarti tetaplah, lekatlah, perbanyaklah. Seperti sesuatu yang menempel terus-menerus dan gak terlepas.
Artinya, Rasulullah menganjurkan kita untuk terus-menerus menyebut nama ini dalam doa. Menjadikannya bagian yang melekat dari cara kita berdoa.
Kenapa? Sebagian ulama menjelaskan bahwa nama ini merangkum dua sisi sifat Allah yang paling penting untuk diingat dalam doa: keagungan yang membuat doa kita penuh adab, dan kemuliaan yang membuat doa kita penuh harapan.
Kita memohon kepada Dzat yang Maha Agung, sehingga kita memohon dengan rendah hati. Dan kita memohon kepada Dzat yang Maha Memuliakan, sehingga kita yakin doa kita akan dimuliakan.
Kita Dimuliakan
Ada satu ayat yang menunjukkan bagaimana Allah memuliakan manusia:
۞ وَلَقَدۡ كَرَّمۡنَا بَنِيٓ ءَادَمَ وَحَمَلۡنَٰهُمۡ فِي ٱلۡبَرِّ وَٱلۡبَحۡرِ وَرَزَقۡنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلۡنَٰهُمۡ عَلَىٰ كَثِيرٖ مِّمَّنۡ خَلَقۡنَا تَفۡضِيلٗا ٧٠
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan (karramna) anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
Karramna, Kami telah muliakan. Dari akar yang sama dengan ikram.
Manusia dimuliakan dengan akal, dengan kemampuan memilih, dengan tubuh yang sempurna, dan dengan tugas sebagai khalifah di bumi.
Kesadaran ini seharusnya membuat kita menjaga kemuliaan yang Allah berikan. Kemuliaan itu bisa jatuh ketika manusia memilih jalan yang merendahkan dirinya: maksiat, kezaliman, dan kesombongan.
Memuliakan Sesama
Kalau Allah memuliakan manusia, maka kita juga harus memuliakan sesama manusia.
Gak boleh menghina, merendahkan, atau mempermalukan orang lain. Karena mereka adalah makhluk yang dimuliakan Allah.
Tamu dimuliakan, sebagaimana Rasulullah bersabda bahwa siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah memuliakan tamunya (HR. Bukhari dan Muslim). Tetangga dimuliakan. Orang tua dimuliakan. Bahkan orang yang berbeda keyakinan pun tetap punya kehormatan sebagai manusia.
Dzul Jalali wal Ikram dalam Mendidik Anak
Ajarkan anak doa setelah shalat yang mengandung nama ini. Jelaskan maknanya dengan sederhana: "Allah itu Maha Agung, jadi kita harus sopan kepada-Nya. Dan Allah juga memuliakan kita, jadi kita harus bersyukur."
Ajarkan juga mereka untuk memuliakan orang lain. Menyambut tamu dengan baik, menghormati orang yang lebih tua, dan gak menghina teman.
Dan jaga kemuliaan mereka sendiri. Jangan mempermalukan anak di depan orang lain. Mereka juga makhluk yang dimuliakan Allah.
Cara Praktis Menghidupkan Dzul Jalali wal Ikram
Pertama, saat membaca doa setelah shalat, berhenti sejenak di ya dzal jalali wal ikram. Rasakan keagungan dan kemuliaan-Nya.
Kedua, amalkan hadits alizzhu: perbanyak nama ini dalam setiap doa.
Ketiga, renungkan Al-Isra' ayat 70. Jaga kemuliaan yang Allah berikan dengan menjauhi yang merendahkan.
Keempat, muliakan seseorang hari ini: tamu, tetangga, orang tua, atau orang yang sering diremehkan.
Penutup
Semua yang ada di bumi akan binasa. Yang tetap hanya Wajah Tuhanmu, Pemilik keagungan dan kemuliaan.
Keagungan-Nya membuat kita tunduk. Kemuliaan-Nya membuat kita dimuliakan.
Maka dalam doa-doa antum, sudahkah antum "melekat" dengan nama Dzul Jalali wal Ikram, seperti yang dianjurkan Rasulullah?
Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-85 dari 99.