November 05, 2026 | Asmaul Husna

Malikul Mulk: Pemilik Kerajaan yang Memberi dan Mencabut

Oleh M Salman Azhar
Malikul Mulk: Pemilik Kerajaan yang Memberi dan Mencabut

Sejarah adalah catatan tentang kerajaan-kerajaan yang datang dan pergi.

Kerajaan Romawi yang pernah menguasai separuh dunia, runtuh. Kekaisaran Persia yang megah, hancur. Kesultanan Utsmaniyah yang bertahan enam abad, berakhir. Kerajaan-kerajaan Nusantara yang jaya, tinggal nama dalam buku sejarah.

Dan dalam skala yang lebih kecil, kita menyaksikan hal yang sama setiap hari. Direktur yang dicopot. Pejabat yang lengser. Perusahaan raksasa yang bangkrut.

Semua kekuasaan manusia punya tanggal kedaluwarsa. Kenapa?

Karena pemilik sebenarnya dari semua kerajaan itu bukan manusia. Ia adalah Malikul Mulk.

Makna Malikul Mulk

Malikul Mulk adalah gabungan dua kata: malik (raja, pemilik) dan mulk (kerajaan, kekuasaan, kepemilikan).

Jadi Malikul Mulk berarti Raja dari segala kerajaan, Pemilik dari segala kepemilikan. Allah bukan hanya raja, tapi Dia adalah pemilik dari konsep kerajaan itu sendiri. Setiap kerajaan di dunia, sekecil atau sebesar apa pun, adalah milik-Nya.

Kita sudah membahas Al-Malik di awal seri ini. Malikul Mulk menegaskan dimensi yang lebih spesifik: Allah yang memberikan dan mencabut kerajaan.

Ayat yang Merangkum Segalanya

Nama ini berasal dari satu ayat yang sangat terkenal:

قُلِ ٱللَّهُمَّ مَٰلِكَ ٱلۡمُلۡكِ تُؤۡتِي ٱلۡمُلۡكَ مَن تَشَآءُ وَتَنزِعُ ٱلۡمُلۡكَ مِمَّن تَشَآءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَآءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَآءُۖ بِيَدِكَ ٱلۡخَيۡرُۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ قَدِيرٞ ٢٦

QS. Aal-i-Imraan: 26

Katakanlah: Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan (Malikal Mulk), Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Kita sudah membahas ayat ini saat membicarakan Al-Mu'izz dan Al-Mudzill. Tapi sekarang, mari fokus pada kalimat pembukanya.

Tu'til mulka man tasya', Engkau berikan kerajaan. Wa tanzi'ul mulka mimman tasya', dan Engkau cabut kerajaan.

Perhatikan kata yang dipakai untuk mencabut: tanzi'u. Kata ini dalam bahasa Arab mengandung makna mencabut dengan paksa, seperti mencabut sesuatu yang tertanam kuat.

Artinya, kekuasaan yang terasa sangat kokoh sekalipun, yang tertanam dalam-dalam, bisa dicabut oleh Malikul Mulk kapan saja.

Kekuasaan adalah Titipan

Kalau Allah yang memberi dan mencabut kerajaan, maka logis bahwa setiap kekuasaan adalah titipan.

Kita gak memiliki jabatan kita. Kita dititipi. Kita gak memiliki perusahaan kita. Kita dititipi. Kita gak memiliki anak-anak kita. Kita dititipi.

Dan titipan pasti akan diambil kembali oleh pemiliknya.

Kesadaran ini mengubah cara kita memegang kekuasaan.

Kita gak akan sombong, karena tahu kekuasaan bukan milik kita.

Kita gak akan zalim, karena tahu akan ditanya tentang bagaimana kita memakainya.

Kita gak akan hancur saat kehilangan, karena tahu sejak awal itu bukan milik kita.

Kisah Nabi Sulaiman

Nabi Sulaiman adalah contoh terbaik tentang bagaimana memegang kekuasaan dengan kesadaran Malikul Mulk.

Ia diberi kerajaan yang gak tertandingi: menguasai manusia, jin, angin, dan hewan. Ia bisa memahami bahasa semut.

Tapi setiap kali melihat kekuasaannya, ia gak berkata "lihat betapa hebatnya aku." Ia berkata:

قَالَ ٱلَّذِي عِندَهُۥ عِلۡمٞ مِّنَ ٱلۡكِتَٰبِ أَنَا۠ ءَاتِيكَ بِهِۦ قَبۡلَ أَن يَرۡتَدَّ إِلَيۡكَ طَرۡفُكَۚ فَلَمَّا رَءَاهُ مُسۡتَقِرًّا عِندَهُۥ قَالَ هَٰذَا مِن فَضۡلِ رَبِّي لِيَبۡلُوَنِيٓ ءَأَشۡكُرُ أَمۡ أَكۡفُرُۖ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشۡكُرُ لِنَفۡسِهِۦۖ وَمَن كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيّٞ كَرِيمٞ ٤٠

QS. An-Naml: 40

...Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya)...

Ketika mendengar semut memperingatkan kaumnya agar gak terinjak pasukan Sulaiman, ia tersenyum dan berdoa:

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكٗا مِّن قَوۡلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوۡزِعۡنِيٓ أَنۡ أَشۡكُرَ نِعۡمَتَكَ ٱلَّتِيٓ أَنۡعَمۡتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَٰلِدَيَّ وَأَنۡ أَعۡمَلَ صَٰلِحٗا تَرۡضَىٰهُ وَأَدۡخِلۡنِي بِرَحۡمَتِكَ فِي عِبَادِكَ ٱلصَّٰلِحِينَ ١٩

QS. An-Naml: 19

...Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku...

Raja yang paling berkuasa, tapi hatinya selalu sadar bahwa semua itu adalah titipan dari Malikul Mulk.

Kontras dengan Fir'aun

Bandingkan dengan Fir'aun. Ia juga diberi kekuasaan besar. Tapi ia berkata:

وَنَادَىٰ فِرۡعَوۡنُ فِي قَوۡمِهِۦ قَالَ يَٰقَوۡمِ أَلَيۡسَ لِي مُلۡكُ مِصۡرَ وَهَٰذِهِ ٱلۡأَنۡهَٰرُ تَجۡرِي مِن تَحۡتِيٓۚ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ ٥١

QS. Az-Zukhruf: 51

...Bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku?...

Fir'aun mengklaim kepemilikan. Dan Malikul Mulk mencabut kerajaannya dengan cara yang paling dramatis: ditenggelamkan di laut, di dalam air yang ia klaim "mengalir di bawahnya."

Dua raja, dua sikap. Satu sadar sebagai penerima titipan, satu merasa sebagai pemilik. Dan akhir keduanya sangat berbeda.

Setiap Kita Punya "Kerajaan"

Mungkin antum berpikir: "Aku bukan raja atau pejabat. Nama ini gak relevan untukku."

Tapi coba pikirkan. Setiap kita punya "kerajaan" dalam skala masing-masing.

Kepala keluarga punya kerajaan bernama rumah tangga. Guru punya kerajaan bernama kelas. Pemilik usaha punya kerajaan bernama bisnisnya. Bahkan setiap orang punya kerajaan bernama dirinya sendiri: tubuh, waktu, harta, dan pilihan-pilihannya.

Semua kerajaan itu adalah titipan dari Malikul Mulk. Dan semuanya akan ditanya.

Malikul Mulk dalam Mendidik Anak

Ajarkan anak bahwa semua yang mereka miliki adalah titipan. Mainan, pakaian, bahkan tubuh mereka sendiri.

Ceritakan kisah Sulaiman dan Fir'aun. Tanyakan: "Apa bedanya kedua raja ini? Kenapa akhir mereka berbeda?"

Dan ketika mereka diberi tanggung jawab, entah ketua kelas atau kakak yang menjaga adik, ajarkan mereka untuk memegangnya seperti Sulaiman: dengan syukur, dengan adil, dan dengan kesadaran bahwa itu titipan.

Cara Praktis Menghidupkan Malikul Mulk

Pertama, baca Ali 'Imran ayat 26–27 dengan penuh penghayatan. Rasakan bahwa semua kerajaan adalah milik Allah.

Kedua, identifikasi "kerajaan" apa saja yang sedang antum pegang. Tanyakan: apakah aku memegangnya seperti Sulaiman atau seperti Fir'aun?

Ketiga, saat mendapat jabatan atau kekuasaan baru, ucapkan kalimat Sulaiman: ini karunia Tuhanku untuk mengujiku.

Keempat, saat kehilangan kekuasaan, ingat bahwa itu hanya titipan yang diambil kembali oleh Pemiliknya.

Penutup

Kerajaan datang dan pergi. Jabatan diberi dan dicabut. Kekuasaan terasa kokoh, lalu tiba-tiba hilang.

Karena pemilik sebenarnya dari semua kerajaan itu hanya satu: Malikul Mulk.

Maka kerajaan kecil apa yang sedang antum pegang hari ini, dan bagaimana antum akan mempertanggungjawabkannya kepada Pemiliknya?


Tulisan ini bagian dari seri Tadabbur Asmaul Husna: nama ke-84 dari 99.

M Salman Azhar

Ditulis oleh

M Salman Azhar

Artikel Terkait