Coba hitung berapa kali hari ini antum menyebut nama itu.
Bismillah sebelum makan. Alhamdulillah setelah bersin. Astaghfirullah saat kesal. Masya Allah saat kagum. Ya Allah saat kaget, lelah, atau takut.
Kita menyebut nama itu ratusan kali sehari. Saking seringnya, nama itu hampir jadi refleks, seperti napas.
Dan justru karena terlalu sering, kita jarang berhenti untuk bertanya: sebenarnya, nama apakah ini?
Sebelum seri Tadabbur Asmaul Husna membahas 99 nama satu per satu, kita perlu berhenti dulu di nama yang menjadi induk dari semuanya: Allah.
Nama yang Gak Punya Padanan
Hampir semua Asmaul Husna punya "bayangan" pada makhluk. Ada manusia yang penyayang, walau sayangnya terbatas. Ada raja yang berkuasa, walau kuasanya sementara. Ada orang yang bijaksana, walau bijaknya sering keliru.
Tapi coba cari: siapa di alam semesta ini yang bernama Allah?
Gak ada.
Al-Qur'an mengajukan pertanyaan retoris tentang ini:
رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَمَا بَيۡنَهُمَا فَٱعۡبُدۡهُ وَٱصۡطَبِرۡ لِعِبَٰدَتِهِۦۚ هَلۡ تَعۡلَمُ لَهُۥ سَمِيّٗا ٦٥
...Maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadah kepada-Nya. Apakah kamu mengetahui ada sesuatu yang sama dengan-Nya (yang patut disembah)?
Sebagian mufassir menjelaskan kata samiyya di ayat itu dengan makna "yang senama" atau "yang setara". Keduanya berujung pada kesimpulan yang sama: gak ada yang layak menyandang nama dan kedudukan itu selain Dia.
Bahkan dalam sejarah, para penyembah berhala pun gak berani menamai berhala mereka dengan nama Allah. Mereka punya Latta, Uzza, Manat. Tapi nama Allah tetap mereka sadari sebagai nama Tuhan yang tertinggi.
Bahasa yang Menyerah
Bahasa Arab adalah bahasa yang sangat lentur. Hampir setiap kata bisa dibentuk ulang: dijadikan jamak, dijadikan bentuk perempuan, dikecilkan, diturunkan menjadi kata kerja.
Tapi lafaz Allah gak diperlakukan seperti itu. Para ahli bahasa menjelaskan bahwa lafaz ini gak punya bentuk jamak dan gak punya bentuk muannats. Gak ada "Allah-Allah" dan gak ada "Allah perempuan".
Seolah bahasa yang paling kaya dalam urusan bentuk kata itu berhenti di satu titik dan berkata: nama ini gak bisa dibagi.
Para ulama sendiri berbeda pendapat tentang asal-usul lafaz ini. Sebagian berpendapat ia adalah nama diri ('alam) yang gak diturunkan dari kata lain. Sebagian lagi berpendapat ia berkaitan dengan kata ilah, yaitu yang disembah dan dituju dengan cinta serta ketundukan.
Kita gak perlu memaksakan salah satunya. Yang menarik justru titik temunya: kalau pun ia berakar dari ilah, maknanya adalah satu-satunya yang layak menjadi pusat penghambaan. Dan kalau pun ia nama diri yang murni, ia tetap nama yang gak pernah disandang siapa pun selain Dia.
Induk dari Semua Nama
Perhatikan bagaimana Al-Qur'an memperlakukan nama-nama Allah yang lain:
ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّا هُوَۖ لَهُ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ ٨
وَلِلَّهِ ٱلۡأَسۡمَآءُ ٱلۡحُسۡنَىٰ فَٱدۡعُوهُ بِهَاۖ وَذَرُواْ ٱلَّذِينَ يُلۡحِدُونَ فِيٓ أَسۡمَٰٓئِهِۦۚ سَيُجۡزَوۡنَ مَا كَانُواْ يَعۡمَلُونَ ١٨٠
Dan Allah memiliki Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik), maka berdoalah kepada-Nya dengan menyebutnya...
Kita berkata "Ar-Rahman adalah salah satu nama Allah." Kita gak berkata "Allah adalah salah satu nama Ar-Rahman."
Artinya, semua nama lain disandarkan kepada lafaz Allah. Ia seperti judul besar, dan 99 nama lainnya adalah bab-bab yang menjelaskan siapa pemilik judul itu.
Maka ketika kita menyebut "Allah", sebenarnya kita sedang menyebut Dzat yang Maha Pengasih, Maha Kuasa, Maha Mengetahui, Maha Pengampun, dan seluruh kesempurnaan lainnya, sekaligus.
Itulah kenapa seri ini dibuka dari sini. Setiap nama yang nanti kita tadabburi adalah satu jendela untuk mengenal pemilik nama ini lebih dalam.
Nama Pertama yang Diperkenalkan kepada Musa
Ada momen yang sangat menarik dalam kisah Nabi Musa. Di lembah Thuwa, dalam gelap malam, saat pertama kali Allah berbicara kepadanya, kalimat perkenalan-Nya adalah:
إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ ١٤
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat-Ku.
Perhatikan urutannya. Pertama, perkenalan nama: Aku adalah Allah. Kedua, penegasan tauhid: gak ada Tuhan selain Aku. Ketiga, konsekuensi: maka sembahlah Aku. Keempat, cara menjaganya: dirikan shalat untuk mengingat-Ku.
Logikanya sangat rapi. Mengenal nama melahirkan pengakuan. Pengakuan melahirkan penghambaan. Dan penghambaan dijaga dengan ingatan yang terus-menerus.
Seri ini ingin mengikuti urutan yang sama: mengenal dulu, supaya ibadah kita lahir dari pengenalan, bukan sekadar kebiasaan.
Nama yang Kita Sebut, Tapi Belum Jadi Pusat
Sekarang bagian yang agak menohok.
Kita menyebut nama Allah ratusan kali sehari. Tapi apakah nama itu benar-benar menjadi pusat hidup kita?
Coba perhatikan pola yang sering terjadi.
Kita mengucap tawakkaltu 'alallah, tapi dada masih sesak karena takut kehilangan kendali. Kita berkata insya Allah, tapi sebenarnya maksudnya "mungkin gak." Kita shalat, tapi pikiran lebih sibuk memikirkan pendapat orang tentang kita. Kita berdoa, tapi diam-diam lebih percaya pada rencana kita sendiri.
Masalahnya bukan kita gak menyebut nama Allah. Masalahnya, nama itu keluar dari lisan tapi belum sampai menjadi jangkar di dalam hati.
Dan orang yang jangkarnya bukan Allah akan mudah terombang-ambing: oleh tren, oleh pujian, oleh ketakutan, oleh kehilangan.
Nama Allah dalam Mendidik Anak
Kata pertama yang diperdengarkan kepada bayi Muslim biasanya adalah adzan, dan di dalamnya lafaz Allahu Akbar. Kalimat terakhir yang kita harapkan keluar dari lisan saat wafat adalah la ilaha illallah.
Hidup seorang Muslim dibuka dan ditutup dengan nama ini.
Tapi di antara pembukaan dan penutupan itu, anak-anak kita sering hanya mengenal Allah sebagai "yang nanti marah kalau kamu nakal" atau "yang mencatat dosamu."
Itu gak salah, tapi terlalu sempit. Anak perlu mengenal Allah lewat nama-nama-Nya yang lain juga: Yang Maha Penyayang, Yang Maha Mendengar, Yang Maha Menjaga, Yang Maha Pengampun. Supaya nama "Allah" di telinga mereka terasa hangat, bukan hanya menakutkan.
Seri ini, insya Allah, bisa jadi bahan untuk itu: satu nama setiap minggu, diceritakan kepada anak dengan contoh yang dekat dengan hidup mereka.
Sebuah Latihan Kecil
Malam ini, sebelum tidur, coba satu hal sederhana.
Sebut nama itu pelan-pelan. Satu kali. Dengan sadar.
Allah.
Lalu tanya dirimu: apa yang sebenarnya sedang aku jadikan pusat hidupku hari ini?
Jangan buru-buru menjawab. Biarkan pertanyaan itu bekerja.
Penutup
Nama yang paling sering kita sebut seharusnya menjadi nama yang paling dalam kita kenal.
Rasulullah bersabda bahwa Allah memiliki 99 nama, dan siapa yang ihsha' (menjaga dan mengamalkan) nama-nama itu akan masuk surga, sebagaimana diriwayatkan Bukhari dan Muslim. Seri ini adalah ikhtiar kecil untuk mengenal 99 nama itu satu per satu, dan membiarkan setiap nama mengubah satu sudut hidup kita.
Maka sudahkah antum benar-benar mengenal pemilik nama yang antum sebut ratusan kali sehari itu?
Tulisan ini pengantar seri Tadabbur Asmaul Husna, sebelum 99 nama dibahas satu per satu.