Pertanyaan yang lagi-lagi muncul lagi belakangan ini, terutama setiap kali ada kasus pesantren yang viral di media sosial.
Masihkah pendidikan ala pesantren relevan di era zaman now?
Ana ingin balik bertanya: jangan-jangan yang perlu kita pertanyakan bukan relevan atau tidak relevan. Tapi, yang perlu kita tanyakan adalah — mengapa institusi pendidikan yang sudah menjawab pertanyaan terbesar dalam dunia pendidikan justru dianggap pilihan kedua di negara mayoritas Muslim ini?
Pertanyaan terbesar itu sederhana, tapi belum selesai dijawab hingga sekarang: bagaimana cara mendidik manusia secara utuh?
Pendidikan Modern dan Ruang yang Belum Terisi
Pendidikan formal di Indonesia sangat serius mengembangkan satu hal: kemampuan kognitif. Itu bagus. Gak perlu diperdebatkan lagi lah, ya?
Tapi para pemerhati pendidikan — bahkan yang berasal dari dalam sistem itu sendiri — mengakui ada beberapa ranah yang penerapannya sering setengah hati.
Pertama, ranah afektif — sikap, perasaan, pembentukan karakter.
Kedua, ranah psikomotorik — keterampilan praktis dan fisik.
Ketiga, yang paling jarang disentuh — aspek spiritual, perkembangan ruhani seseorang.
Ana yakin semua orang termasuk antum akan setuju bahwa ketiga ranah itu penting. Tapi di sekolah formal, kalau sesuatu sulit diajarkan, maka ia hampir pasti sulit dimasukkan ke dalam lembar ujian. Dan kalau tidak masuk ujian, maka prioritasnya turun. Jadinya cuma formalitas doang.
Maka terjadilah yang kita lihat sekarang: generasi yang cerdas secara akademik tetapi rapuh secara karakter, terampil secara teknis tetapi kosong secara spiritual.
Apakah ini kelemahan guru-gurunya?
Gak sepenuhnya. Menurut ana pribadi ini kelemahan desain sistemnya.
Pesantren: Bukan Kebetulan Lengkap, tapi Memang Lengkap Betulan
Jauh sebelum ada kurikulum nasional, jauh sebelum ada gagasan holistic education ala Barat, pesantren sudah memiliki ekosistem yang secara alami mencakup semua dimensi manusia.
Ini bukan kebetulan loh, ya.
Kalau pendidikan modern bertanya: bagaimana cara mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada murid?
Pondok pesantren beda lagi model bertanyanya: bagaimana cara membentuk manusia yang mengenal Allah, mengenal dirinya sendiri, dan tahu tujuan hidupnya?
Dua pertanyaan yang berbeda akan menghasilkan sistem yang berbeda.
Dan sistem pesantren, justru karena bertolak dari pertanyaan yang lebih dalam, menghasilkan pendidikan yang lebih luas jangkauannya.
1. Akal — Bukan Hafalan, tapi Tradisi Berpikir
Di pondok, santri belajar ilmu agama dengan metode ngaji matan, syarah, dan hasyiyah. Artinya, setiap teks gak dibaca sendirian. Ia dibaca bersama penjelasan para ulama lintas generasi — dari guru, ke guru dari guru, terus bersambung sampai mentok hulunya. Jadi bisa ditrack dengan jelas.
Santri diajak memahami mengapa sebuah pendapat diambil, apa dasarnya, di mana batasannya, dan bagaimana ulama lain bisa berbeda pendapat dengan cara berpikir yang sama-sama terstruktur.
Ini bukan latihan menghafal. Ini latihan berpikir sistematis dalam tradisi intelektual yang panjang. Sangar, kan?!
Bahkan, ilmu logika — manthiq — sudah diajarkan di pesantren-pesantren salaf sejak tingkat tsanawiyah atau aliyah. Jadi kalau ada yang menganggap kurikulum pesantren hanya hafalan, mungkin ngopi antum kurang adoh. Hehe.
2. Akhlak dan Jiwa — Sesuatu yang Tidak Bisa Ditiru Lembar Ujian
Inilah yang paling khas dari pesantren, sekaligus yang paling sulit ditiru institusi formal.
Di pesantren, pembentukan akhlak bukan mata pelajaran. Ia adalah miliu — iklim yang setiap hari dihirup santri.
Santri hidup dalam suasana lillah thalabul 'ilmi, belajar dengan niat ibadah. Hidup sederhana bukan karena aturan tertulis, tapi karena lingkungan yang memang menuntut itu. Mengurus diri sendiri, melayani sesama, belajar berkorban tanpa pamrih.
Dalam tradisi Islam, ini disebut tazkiyatun nafs — penyucian jiwa secara bertahap. Prosesnya panjang, gak bisa diukur dengan angka, tapi hasilnya nyata dalam kepribadian.
Dan inilah yang sebenarnya dimaksud kebebasan sejati dalam pesantren: bebas dari ketergantungan pada selain Allah. Bebas dari penjajahan kebutuhan yang diciptakan orang lain.
3. Kemandirian — Bukan Dipaksa Kurikulum, tapi Dipaksa Keadaan
Anak yang mondok, dalam hitungan minggu pertama, sudah belajar mengurus pakaiannya sendiri, menata lemarinya sendiri, mengatur waktunya sendiri.
Bukan karena ada mata pelajaran "kemandirian". Tapi karena terpaksa oleh keadaan.
Ini desain yang luar biasa. Pesantren gak nunggu santri siap dewasa. Pesantren menempatkan santri dalam kondisi di mana kedewasaan menjadi kebutuhan, bukan pilihan yang bisa ditunda.
Ori Nusantara, Bukan Warisan Penjajah
Ada satu hal yang jarang disadari.
Pesantren adalah institusi pendidikan yang lahir dari dalam peradaban Nusantara dan tradisi Islam — bukan transplantasi model luar.
Ketika Belanda membangun sekolah-sekolah formal dengan sistem Barat di tanah ini, pesantren sudah berdiri dan berjalan. Pondok gal nunggu diakui negara dulu. Ia hidup karena masyarakat membutuhkan dan mempercayainya.
Justru sistem sekolah formal itulah yang bukan ori Nusantara. Ia adalah warisan sistem kolonial yang dirancang untuk mencetak tenaga kerja yang patuh, bukan manusia yang merdeka.
Pesantren lahir bukan dari teori yang kemudian dipraktikkan. Ia lahir dari kebutuhan nyata masyarakat Muslim: mendidik generasi yang tahu cara hidup bermartabat sebagai seorang Muslim.
Dan selama berabad-abad, tanpa kurikulum tertulis yang rumit, tanpa lembaga akreditasi — pesantren melahirkan ulama, pemimpin, petani yang saleh, pedagang yang jujur, dan tokoh-tokoh yang membangun negeri ini.
Mengapa Tetap Dianggap 'Pilihan Kedua'?
Nah, ini nih pertanyaan yang perlu dijawab jujur.
Sebagian mungkin karena narasi salah kaprah yang telanjur terbentuk: bahwa sukses diukur dari pekerjaan formal bergaji tinggi, dan untuk itu perlu ijazah dari universitas ternama. Pesantren dianggap tidak memberi tiket itu. Ini cara pandang materialistik yang sudah meresap diam-diam ke dalam nilai-nilai keluarga Muslim. Hati-hati!
Jujurly, sebagian lagi karena memang ada oknum pesantren yang tidak merawat kualitasnya. Ini harus diakui, bukan ditutup-tutupi. Label pesantren gak otomatis menjamin kualitas pendidikannya, ya.
Tapi kesalahan terbesar kita adalah mengukur pesantren dengan alat ukur yang bukan miliknya.
Sama seperti mengukur keberhasilan seorang dokter dengan indikator seniman. Lha kalau keberhasilan pendidikan hanya diukur dari nilai akademik dan prospek kerja, maka pesantren akan selalu tampak kurang. Bukan karena ia gagal, tapi karena parameter yang digunakan gak fair — parameter harusnya lebih luas dari sekedar materi.
Konklusi
Ana gak sedang menyatakan bahwa setiap anak wajib masuk pesantren. Setiap keluarga punya konteks dan pertimbangannya sendiri. I know that.
Tapi ada satu hal yang ingin ana ajukan: ubah cara kita melihat pesantren.
Pesantren bukan tempat pelarian terakhir ketika anak sudah susah diatur. Bukan tempat buangan. Bukan sekadar sekolah agama dengan tambahan hafalan Al-Qur'an.
Pesantren adalah salah satu model pendidikan paling holistik yang pernah ada di negeri ini — yang memandang manusia bukan sebagai mesin yang perlu diisi pengetahuan, tapi sebagai hamba Allah yang perlu dibentuk secara utuh: akalnya, jiwanya, karakternya, kemandiriannya.
Dan model pendidikan sepenting itu tidak seharusnya menjadi pilihan kedua.
Jangan-jangan, yang perlu diubah bukan pesantrennya — tapi cara kita mendefinisikan keberhasilan pendidikan itu sendiri.
Gimana? Antum sedang mempertimbangkan untuk menyekolahkan anak di pesantren? Atau justru pernah menjadi santri dan merasakan sendiri perbedaannya? Sharing dong pengalamannya!?